Penelitian ini mengkaji dinamika modal sosial dan jaringan kerja informal dalam meningkatkan ketahanan ekonomi petani milenial di pedesaan Indonesia. Fenomena migrasi balik generasi milenial ke sektor pertanian menunjukkan transformasi signifikan dalam lanskap agraria nasional, namun tantangan struktural tetap menghambat keberlanjutan usaha tani mereka. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di tiga provinsi (Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan), penelitian ini menganalisis bagaimana petani milenial memanfaatkan modal sosial dan jaringan informal untuk mengakses sumber daya ekonomi, informasi pasar, teknologi pertanian, dan peluang kemitraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial yang dimiliki petani milenial berbeda secara fundamental dari generasi sebelumnya, dengan kecenderungan kuat pada jaringan digital dan komunitas berbasis minat. Jaringan kerja informal yang dibangun melalui platform digital, kelompok tani modern, dan kolaborasi lintas daerah terbukti efektif dalam meningkatkan akses pasar, diversifikasi usaha, dan resiliensi terhadap guncangan ekonomi. Namun, ketergantungan pada jaringan informal juga menimbulkan kerentanan baru, terutama terkait keberlanjutan dan formalitas usaha. Temuan ini mengindikasikan perlunya kebijakan yang mengakomodasi karakteristik unik petani milenial sambil memperkuat institusi formal pendukung sektor pertanian. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman teoritis tentang evolusi modal sosial di era digital dan memberikan implikasi praktis bagi pengembangan program pemberdayaan petani muda yang lebih responsif dan berkelanjutan.
Copyrights © 2025