Tuvalu tengah menghadapi situasi genting imbas semakin abnormalnya laju perubahan iklim yang berpotensi menenggelamkan wilayah negara kepulauan dataran rendah di Pasifik ini. Tak hanya ancaman fisik, ketidakamanan tersebut turut mengancam kelangsungan hidup hingga identitas sosiokultural masyarakat Tuvalu. Inisiasi skema mobilitas iklim terencana di bawah kerangka Perjanjian Falepili Union antara Pemerintah Australia dan Tuvalu membawa solusi revolusioner dengan menawarkan akses kuota visa residensi bagi masyarakat Tuvalu untuk bermukim di Australia. Meski kesempatan ini menawarkan sejumlah nilai imbal balik bagi resiliensi Tuvalu, implementasi ini berpotensi erosif terhadap dimensi keamanan manusia masyarakat Tuvalu sebagai kelompok masyarakat adat rentan yang menjunjung keterikatan spiritual dengan tanah leluhurnya dan nilai kolektivisme. Dengan mengaplikasikan metode pendekatan kualitatif dalam spektrum epistemologi interpretivisme, artikel ini ditujukan untuk menganalisis dan mengelaborasi kondisi dilematis yang dihadapi masyarakat Tuvalu melalui konsep kerentanan bersama (mutual vulnerability) yang mencakup ketidakamanan (insecurity) pada dimensi lingkungan, ekonomi, dan sosiokultural. Hasil penelitian merefleksikan signifikansi pendekatan multidimensi keamanan manusia dalam implementasi solusi adaptasi iklim yang mampu memahami konteks kehidupan dan narasi masyarakat Tuvalu untuk melindungi martabat dan resiliensi komunitasnya.
Copyrights © 2026