ABSTRAK Tradisi Tari Rejang Keraman di Desa Adat Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng merupakan warisan budaya sakral yang dilaksanakan secara berkala dalam rangkaian Upacara Ngusaba Agung di Pura Puseh Pemulungan. Tradisi ini tergolong unik karena dirangkaikan dengan prosesi Raja Swala sebagai simbol pendewasaan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam proses pelaksanaan, makna, serta nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terkandung di dalam tradisi tersebut. Analisis dalam penelitian ini dibedah menggunakan pisau analisis teori fungsional struktural, teori interaksionisme simbolik, dan teori nilai. Berlandaskan kerangka teoretis tersebut, metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terstruktur, wawancara semi-terstruktur dengan pemuka Adat, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Tari Rejang Keraman berjalan melalui tahapan persiapan, puncak ritual, hingga penutupan yang sinkron dengan upacara Ngusaba Agung. Tradisi ini mengintegrasikan makna religius, spiritual, dan sosial sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta simbol penyucian diri. Tradisi ini memuat nilai pendidikan agama Hindu yang meliputi nilai Tattwa, Susila, dan Acara. Nilai-nilai ini terbukti efektif membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan gotong royong bagi truna-truni. Tari Rejang Keraman bukan sekadar ekspresi seni, melainkan media pendidikan keagamaan nonformal yang vital untuk mentransfer nilai moral dan mempertahankan identitas budaya lokal dari pengaruh globalisasi.
Copyrights © 2026