Rendahnya literasi membaca siswa sekolah dasar di Indonesia, yang tercermin dari skor PISA 2025 (371, peringkat 72 dari 78 negara), membutuhkan solusi inovatif. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah diimplementasikan secara nasional, namun efektivitasnya masih belum optimal karena strategi yang monoton dan minimnya media yang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis implementasi media Digital Flat Panel (DFP) dalam mendukung GLS pada tiga tahap (pembiasaan, pengembangan, pembelajaran), dan (2) mengidentifikasi kendala multidimensi (teknis, non-teknis, manajerial) dalam pemanfaatan DFP. Pendekatan studi kasus kualitatif digunakan di SD Negeri Malahayu 05, Brebes, melibatkan kepala sekolah, guru kelas III, dan delapan siswa. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif (9 sesi), wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman dengan triangulasi sumber dan teknik. Temuan menunjukkan implementasi DFP paling optimal pada tahap pembelajaran (frekuensi 100%, partisipasi siswa 96%), diikuti tahap pengembangan (frekuensi 100%, partisipasi 92%), dan kurang optimal pada tahap pembiasaan (66,7%, dengan partisipasi meningkat dari 62,5% menjadi 87,5% saat DFP digunakan). Kelancaran membaca siswa kategori lancar-sangat lancar meningkat dari 50% menjadi 75%, dengan peningkatan tertinggi pada kemampuan menyimpulkan bacaan (dari 25% menjadi 62,5%, peningkatan 37,5%). Teridentifikasi tiga kategori kendala: teknis (1 unit DFP untuk 6 kelas, internet tidak stabil), non-teknis (kompetensi digital guru terbatas karena kurang pelatihan), dan manajerial (belum ada SOP tertulis, tidak ada program pelatihan berkelanjutan).
Copyrights © 2026