Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi abad ke-21 yang perlu dikembangkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Namun, hasil observasi awal di kelas III SDN Gadang 4 Kota Malang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada materi teks wawancara masih rendah. Siswa mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi masalah, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan informasi, menganalisis hasil wawancara, dan menarik kesimpulan karena pembelajaran masih didominasi oleh metode yang berpusat pada guru. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) melalui kegiatan wawancara. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 27 siswa kelas III SDN Gadang 4 Kota Malang pada semester genap Tahun Pelajaran 2026/2027. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa meningkat dari 65,5% pada Siklus I menjadi 85,7% pada Siklus II. Nilai rata-rata hasil belajar meningkat dari 59,89 pada pretest menjadi 81,30 pada posttest, sedangkan persentase ketuntasan belajar meningkat dari 25,93% menjadi 100%. Dengan demikian, penerapan model Problem Based Learning (PBL) melalui kegiatan wawancara efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas III SDN Gadang 4 Kota Malang.
Copyrights © 2026