Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di media sosial secara signifikan memicu komparasi sosial negatif yang berimplikasi pada krisis kepercayaan diri siswa Madrasah Aliyah (MA). Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini bertujuan menganalisis fenomena tersebut melalui perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan pisau analisis konsep qana’ah, syukur, dan tazkiyatun nafs. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena Fear of Missing Out (FoMO) dan budaya komparasi digital di kalangan remaja Muslim merupakan manifestasi modern dari penyakit hati (amrad al-qalb) dan perilaku israf yang memicu krisis identitas serta penurunan harga diri (self-esteem). Sebagai antitesis, psikologi Qur'ani melalui konsep tazkiyatun nafs yang diaktualisasikan dalam pilar qana'ah, tawakal, dan syukur terbukti efektif menjadi benteng psiko-spiritual (spiritual buffer) dalam mereduksi kecemasan siber dan mentransformasi orientasi hidup menuju keteguhan tauhid. Oleh karena itu, solusi atas krisis ini memerlukan revitalisasi kurikulum Akidah Akhlak yang terintegrasi dengan literasi digital, serta sinergi kolaboratif yang kuat antara pihak madrasah dan orang tua dalam pendampingan karakter siswa secara holistik.
Copyrights © 2026