Garam merupakan komoditas strategis nasional yang belum tergantikan, namun produksi dalam negeri masih jauh dari kebutuhan akibat keterbatasan teknologi dan ketergantungan pada kondisi cuaca. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik pembuatan garam sistem katup (buka-tutup) serta menganalisis pengaruh parameter fisika terhadap proses kristalisasi garam di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan pengukuran parameter fisika (kadar garam, suhu, tinggi air, intensitas cahaya) selama 6 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan garam sistem katup melalui delapan tahapan: persiapan lahan, pemasangan geomembran, pengambilan air laut, peminihan bertahap pada meja 1-3, kristalisasi pada meja katup, dan pemanenan. Total durasi produksi mencapai 48-50 hari dengan laju evaporasi rata-rata 0,5°Be per hari. Kadar garam tertinggi mencapai 25°Be pada hari ke-9 dengan suhu 37°C. Faktor suhu udara memiliki korelasi positif kuat (r≈0,82) terhadap kadar garam, sedangkan hujan dapat menurunkan kadar garam hingga 76% jika tutup katup tidak berfungsi optimal. Sistem katup dengan geomembran mampu menghasilkan garam lebih bersih (kadar NaCl 90-95%) dan memungkinkan produksi sepanjang tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem katup efektif untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam.
Copyrights © 2026