Transformasi sosial pada era digital telah memberikan perubahan penting terhadap kebiasaan dan corak hidup, nilai budaya, serta pola hubungan sosial masyarakat Muslim Indonesia. Dalam konteks ini, ketahanan budaya menjadi aspek krusial untuk menjaga identitas keislaman dan kearifan lokal dari ancaman disrupsi nilai akibat globalisasi digital. Artikel ini mengkaji pemikiran sosial-keislaman KH. Hasyim Asy’ari, seorang ulama kharismatik pendiri Nahdlatul Ulama, yang memiliki kontribusi besar dalam pembentukan karakter keislaman dan keindonesiaan. Artikel ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif berbasis literatur, dengan penelusuran nilai-nilai sosial yang terkandung dalam karya-karyanya. Diantaranya kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah, dan Muqaddimah Qanun Asasi NU. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemikiran KH. Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya adab, ukhuwah, keilmuan, serta tanggung jawab sosial sebagai fondasi moral masyarakat. Nilai-nilai tersebut terbukti relevan untuk membangun ketahanan budaya di era digital, khususnya dalam menghadapi tantangan seperti disinformasi, krisis identitas, dan polarisasi sosial di media digital. Argumentasi artikel ini bahwa pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dapat direkontekstualisasi sebagai basis etika digital Islam Nusantara yang moderat, toleran, dan berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, warisan intelektual beliau tidak hanya penting dalam sejarah, tetapi juga strategis untuk memperkuat identitas budaya Islam di tengah dinamika digital yang semakin kompleks.
Copyrights © 0000