Keberadaan budaya lokal di tengah perkembangan globalisasi dan perubahan pola kehidupan generasi muda menghadirkan tantangan bagi keberlanjutan kesenian tradisional. Salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui lingkungan pendidikan adalah mengintegrasikan kesenian tradisional ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sehingga peserta didik tidak hanya mengenal budaya secara teoritis, tetapi juga mengalami proses pembelajaran budaya melalui praktik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkenalkan dan mengembangkan Tortor Sawan sebagai bagian dari budaya Batak Toba sekaligus menumbuhkan kesadaran peserta didik terhadap pentingnya pelestarian budaya dan kearifan lokal. Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan edukatif, partisipatif, demonstratif, reflektif, dan kontekstual melalui tahapan pengenalan budaya, pengenalan gerak, demonstrasi, latihan terbimbing, praktik kelompok, refleksi, dan evaluasi. Peserta kegiatan adalah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler tari di SD Santo Ignatius Medan Johor. Kegiatan diarahkan tidak hanya pada penguasaan gerak tari, tetapi juga pada pengenalan makna budaya, kedisiplinan, kerja sama, tanggung jawab, penghargaan terhadap warisan leluhur, dan kecintaan terhadap budaya lokal. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pembelajaran tari tradisional melalui kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi ruang pendidikan budaya yang kontekstual karena peserta didik belajar melalui pengalaman langsung. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat literasi budaya siswa dan membangun keberlanjutan pelestarian budaya Batak Toba melalui lingkungan sekolah
Copyrights © 2026