Studi ini fokus pada pemetaan kerentananan likuefaksi di bagian selatan Pulau Ternate, khususnya di desa Kayu Merah, Kalumata, dan Fitu. Dengan menggunakan Proses Hierarki Analitik (AHP), data lapangan, dan uji laboratorium, penelitian ini mengidentifikasi Kalumata sebagai wilayah dengan potensi likuefaksi tertinggi karena kedalaman muka air tanah yang dangkal, kandungan air yang tinggi, dan komposisi tanah berpasir. Penelitian sebelumnya dalam analisis likuefaksi umumnya menggunakan metode empiris dan probabilistik yang memiliki keterbatasan signifikan, seperti kesulitan mengintegrasikan faktor kompleks dan ketergantungan pada data historis yang terbatas. Metode konvensional sering kali tidak mampu menangkap variabilitas spasial dan temporal faktor geoteknik secara komprehensif. AHP dipilih karena kemampuannya dalam mengatasi kelemahan tersebut, memungkinkan pembobotan multikriteria yang lebih fleksibel dan sistematis dibandingkan metode tradisional. Peta zona yang dihasilkan melalui GIS memberikan wawasan penting untuk mitigasi risiko bencana dan perencanaan kota. Hipotesis penelitian menyatakan bahwa metode AHP akan memberikan penilaian kerentanan likuefaksi yang lebih akurat dan terperinci dibandingkan pendekatan konvensional. Rekomendasi yang diajukan meliputi teknik perbaikan tanah, desain fondasi tahan likuefaksi, dan pemantauan jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan terhadap bahaya seismik. Studi ini menjadi dasar untuk penelitian dan pembuatan kebijakan di wilayah yang rawan geohazard di masa depan
Copyrights © 2025