Penelitian ini memiliki relevansi penting dalam mengungkap motivasi kelompok usia paruh baya dan lansia dalam mengikuti kegiatan di Majlis Taklim Al-Hidayah serta memberikan kontribusi akademik terhadap kajian mengenai hubungan antara religiusitas, kebutuhan sosial, dan kesejahteraan psikologis pada fase usia tersebut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk motivasi keagamaan yang mendorong keterlibatan jamaah dalam kegiatan majelis taklim sekaligus menganalisis peran majelis taklim dalam memenuhi kebutuhan spiritual, sosial, dan psikologis para anggotanya. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam, dengan analisis yang memanfaatkan teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, khususnya tahap generativitas versus stagnasi pada usia paruh baya dan integritas ego versus keputusasaan pada usia lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keikutsertaan jamaah berusia 45–65 tahun dipengaruhi oleh menurunnya aktivitas produktif, munculnya perasaan kesepian, serta meningkatnya kesadaran akan dimensi spiritual dan kehidupan setelah kematian. Kondisi tersebut mendorong mereka untuk memperdalam praktik keagamaan sebagai sarana memperoleh ketenangan batin, memperkuat hubungan dengan Tuhan, serta menemukan kembali makna hidup pada usia senja. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa majelis taklim berperan tidak hanya sebagai ruang pembelajaran agama, tetapi juga sebagai komunitas sosial yang memberikan dukungan emosional, rasa memiliki, dan jaringan pertolongan sosial yang penting bagi kesejahteraan sosial, psikologis, dan spiritual para jamaah pada fase paruh baya dan lanjut usia.
Copyrights © 2026