Permasalahan utama yang mendorong penelitian ini adalah masih kuatnya stigma gender dan ketidaksetaraan dalam pembagian peran pelayanan di Gereja Masehi Injili di Halmahera yang memengaruhi pengalaman majelis perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara terhadap jemaat dan majelis serta diobservasi untuk memperoleh gambaran mendalam mengenai realitas pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun perempuan secara formal diakui sebagai majelis, mereka lebih sering diberi tugas domestik atau administratif, sedangkan kepemimpinan strategis tetap didominasi oleh laki-laki. Stigma mengenai ketidakmampuan perempuan memperkuat marginalisasi mereka baik secara struktural maupun psikologis. Temuan ini konsisten dengan literatur internasional yang menegaskan bahwa pembatasan pelayanan perempuan lebih dipengaruhi oleh budaya patriarkal ketimbang ajaran Alkitab. Artikel ini menekankan perlunya rekonstruksi teologi pelayanan yang menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai mitra sejajar dalam tubuh Kristus.
Copyrights © 2026