Globalisasi daan Pluralisme agama menimbulkan tekanan terhadap doktrin eksklusivitas Kristus (Solus Christus), khususnya dalam konteks masyarakat multikultural Indonesia. Studi-studi sebelumnya belum menyediakan kerangka analitis terpadu yang secara sistematis mengevaluasi tantangan pluralisme, inklusivisme, dan universalisme dalam satu pendekatan yang mengintegrasikan hermeneutika, teologi sistematika, dan apologetika. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi doktrin eksklusivitas Kristus yang kokoh secara biblika sekaligus relevan secara kontekstual. Menggunakan metode deskriptif-analitis dengan pendekatan hermeneutika gramatikal-historis, teologi sistematika, dan apologetika kontekstual, penelitian ini mengkritisi pandangan John Hick (pluralisme), Karl Rahner (inklusivisme), dan universalisme berdasarkan eksegesis Yohanes 14:6 dan Kisah Para Rasul 4:12. Temuan menunjukkan bahwa struktur linguistik Yunani pada teks-teks tersebut mendukung klaim keselamatan yang bersifat eksklusif dan absolut dalam diri Kristus. Sebagai kontribusi ilmiah utama, penelitian ini menghasilkan kerangka kerja soteriologi Alkitabiah tiga dimensi yang orisinal yaitu dimensi Kristosentrik-soteriologis, dimensi anugerah-iman (Sola Gratia), dan dimensi eklesiologis-transformatif. Kerangka ini menegaskan bahwa eksklusivitas Kristus bukanlah arogansi religius, melainkan landasan bagi dialog antaragama yang rendah hati tanpa kompromi doktrinal.
Copyrights © 2026