ABSTRAK Makalah ini mengkaji variabilitas risiko harian crowd agent pada pembayaran cash on delivery (COD). Dengan menggunakan koleksi dataset sebanyak 30 crowd agent. Tujuan studi, menemukan faktor risiko yang paling dominan pada saat pengiriman paket dengan cara COD pada perusahaan jasa logistik. Studi ini menerapkan risiko crowd agent dalam melakukan COD dengan menggunakan metode hibrida: (i) Fuzzy berfungsi untuk menghilangkan ketidakpastian dan subjektivitas penilaian para ahli, dan (ii) AHP berfokus untuk menentukan risiko yang mendominasi. Temuan studi mengindikasikan bahwa 6 dimensi berkontribusi pada model. Berdasarkan pembobotan fuzzy-AHP dimensi tersebut, yaitu alamat fiktif, penolakan pembayaran, kehilangan uang tunai COD, ancaman kekerasan, reputasi, dan re-attempt delivery. Validasi lapangan dengan menginterview para ekspert yang mempunyai pengalaman. Implikasi studi ini berfungsi sebagai peta jalan bagi akademisi untuk membuat model pembayaran digital lebih lanjut, sementara itu bagi e-commerce dan pembuat kebijakan untuk mengintegrasikan antara pembayaran digital dengan preferensi kepercayaan konsumen menuju inklusi keuangan digital di Indonesia. Arah pengembangan, sebaiknya mengintegrasikan faktor sustainable (ekonomi, lingkungan dan sosial) dan berbasis teknologi pengiriman. ABSTRACT This study examines the daily risk variability faced by crowd agents in cash on delivery (COD) transactions. Using a dataset of 30 couriers, this study aimed to identify the most dominant risk dimensions during package delivery via the COD method. This study applies a risk analysis of couriers performing COD using a hybrid method: (i) Fuzzy logic is used to eliminate the uncertainty and subjectivity of expert assessments, and (ii) AHP is focused on determining the dominant risks. The findings of this study indicate that 6 dimensions contribute to the formulation. Risks were prioritized across six dimensions: fictitious addresses, payment refusal, loss of COD cash, threats of violence, reputation, and re-attempt delivery. Field validation was conducted by interviewing experts with of experience. The implications of this study serve as a roadmap for academics to further develop digital payment models, and for online retailers and policymakers to integrate digital payments with consumer trust preferences to achieve digital financial inclusion in Indonesia. Future development should integrate sustainable dimensions (economic, environmental, and social) and delivery technology-based approaches.
Copyrights © 2026