Morbili atau campak tetap menjadi salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dengan daya tular sangat tinggi dan masih menimbulkan morbiditas serta mortalitas bermakna, terutama pada anak yang belum atau tidak lengkap imunisasinya. Program imunisasi global telah menurunkan angka kesakitan dan kematian Morbili secara nyata, tetapi periode pascapandemi COVID-19 diikuti oleh penurunan cakupan imunisasi, meluasnya immunity gap, dan munculnya outbreak berulang di berbagai kawasan. Tinjauan pustaka naratif ini bertujuan menggambarkan tren epidemiologi Morbili hingga tahun 2026 dan menilai apakah penyakit ini dapat dianggap kembali bersifat endemik.. Hasil kajian menunjukkan bahwa penularan Morbili pada 2023–2026 meningkat kembali karena cakupan imunisasi dua dosis belum optimal, kekebalan populasi tidak merata, mobilitas internasional tinggi, dan hesitansi vaksin masih ditemukan di banyak tempat. Di beberapa negara, transmisi berkepanjangan muncul lagi setelah eliminasi tercapai. Di wilayah lain, penularan endemik memang belum pernah terputus sepenuhnya. Di Indonesia, Morbili masih relevan secara epidemiologis dan peningkatan kasus terbaru berkaitan dengan imunisasi yang tidak lengkap serta ketimpangan cakupan antarwilayah. Pada tahun 2026, campak lebih tepat dipahami sebagai penyakit yang meningkat kembali dengan risiko kuat membentuk transmisi menetap di sebagian wilayah, bukan sebagai penyakit yang secara seragam kembali endemik di seluruh dunia.
Copyrights © 2026