Tempe, sebagai salah satu produk pangan fermentasi tradisional memiliki ketergantungan besar terhadap pasokan bahan baku impor yaitu kacang kedelai. Ketergantungan ini menyebabkan berbagai masalah, termasuk fluktuasi harga, ketidakstabilan pasokan, serta dampak lingkungan akibat transportasi jarak jauh. Sebagai alternatif, kacang koro (Canavalia ensiformis) muncul sebagai bahan baku potensial untuk menggantikan kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rantai nilai dan potensi pasar tempe berbahan kacang koro sebagai alternatif pangan berkelanjutan pengganti kedelai impor di Banda Aceh dan Aceh Besar. Penelitian ini mengevaluasi aktivitas produksi, distribusi, dan pemasaran dari produk tempe kacang koro. Hasil analisis menunjukkan tantangan utama berupa tekstur yang belum sehalus tempe kedelai, aroma menyengat, serta rendahnya tingkat familiaritas konsumen. Namun, potensi pasar cukup menjanjikan, terutama dengan pendekatan harga kompetitif, kemasan ramah lingkungan, dan strategi branding yang mengangkat nilai tradisional dan keberlanjutan. Analisis value chain menunjukkan bahwa produksi tempe kacang koro dapat dilanjutkan dengan total margin 20,27%. Penelitian ini merekomendasikan strategi pengembangan produk yang mencakup perbaikan tekstur dan aroma, pemanfaatan teknologi pemotongan kacang, serta investasi dalam alat produksi dan kemasan. Dengan dukungan inovasi, kolaborasi, dan edukasi pasar, tempe kacang koro berpotensi menjadi produk pangan lokal unggulan yang kompetitif dan berkelanjutan.
Copyrights © 2025