Studi ini mengevaluasi konstruksi digital kebijakan Koperasi Merah Putih (KMP) lintas platform dalam ekosistem Liputan 6 (Web, YouTube, TikTok, dan Facebook) menggunakan analisis framing Robert N. Entman. Penelitian kualitatif deskriptif ini menerapkan teknik purposive sampling terhadap liputan digital terkait risiko fiskal, resistensi administrasi lokal, dan kesiapan infrastruktur. Temuan mengungkapkan strategi pembingkaian dua sisi (two-faceted framing). Platform tradisional berbasis teks dan video terstruktur (Web dan YouTube) dominan mengoperasikan bingkai risiko makroekonomi, membingkai kebijakan melalui lensa maladministrasi sistemik dan peringatan Ombudsman. Sebaliknya, media sosial visual-partisipatif (TikTok dan Facebook) memperkuat bingkai penilaian moral publik, mengubah narasi pemotongan Dana Desa 58 persen menjadi isu pelanggaran etis terhadap otonomi daerah dan keberlanjutan ekonomi desa. Studi menyimpulkan bahwa mandat top-down yang mengabaikan otoritas regional memicu perlawanan administratif formal di tingkat lokal. Nilai teoretis riset ini menunjukkan bagaimana isu kebijakan yang identik difragmentasikan menjadi realitas sosial berbeda guna memenuhi logika spesifik platform dan ekspektasi audiens di era konvergensi digital.
Copyrights © 2026