Artikel ini menganalisis konstruksi konsep ketuhanan dalam tradisi filsafat Korea melalui simbol Haneul (Langit) dan transformasinya menjadi figur Ilahi seperti Hananim dalam sejarah modern. Dengan menggunakan pendekatan historis-filosofis, tulisan ini menelusuri akar kosmologi Langit dan mitologi Dangun, pengaruh Konfusianisme, Buddhisme, dan Shamanisme Korea. Pembahasan juga mencakup bagaimana pemaknaan Langit mengalami reinterpretasi melalui tradisi Kristen, gerakan keagamaan baru, teologi Pentakosta, dan teologi Minjung. Dengan demikian, artikel ini menunjukkan bahwa ketuhanan Korea bukan sekadar entitas metafisik, melainkan konstruksi historis yang berfungsi sebagai dasar moral, legitimasi politik, identitas etnis, dan artikulasi penderitaan sosial.
Copyrights © 2026