Latar Belakang: Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) umumnya menjalani terapi jangka panjang yang melibatkan penggunaan berbagai jenis obat, sehingga meningkatkan risiko terjadinya polifarmasi. Polifarmasi dapat meningkatkan risiko interaksi obat, efek samping, ketidakpatuhan pengobatan, serta masalah terkait obat lainnya. Karakteristik pasien, seperti usia dan jumlah diagnosis, diduga berperan dalam terjadinya polifarmasi, namun bukti pada peserta Prolanis di tingkat pelayanan kesehatan primer masih terbatas.Tujuan: Menganalisis hubungan karakteristik pasien terhadap tingkat polifarmasi pada peserta Prolanis di Puskesmas Dewantara Kabupaten Aceh Utara. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 93 peserta Prolanis yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari rekam medis pasien. Variabel independen meliputi usia dan jumlah diagnosis, sedangkan variabel dependen adalah tingkat polifarmasi yang dikategorikan menjadi tidak polifarmasi, polifarmasi minor, dan polifarmasi mayor. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p0,05). Sebaliknya, jumlah diagnosis memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat polifarmasi (p
Copyrights © 2026