Stunting masih menjadi tantangan gizi utama di Indonesia. Akurasi data antropometri di Posyandu sangat penting untuk deteksi dini dan intervensi. Kader Posyandu memegang peranan penting, namun keterampilan pengukuran yang kurang tepat dapat menyebabkan kesalahan dalam menetapkan status gizi. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi kualitas keterampilan pengukuran antropometri pada kader posyandu. Metode penelitian merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 22 kader Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Sungai Dua, Kabupaten Banyuasin. Data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner, dan pengukuran antropometri berulang (tinggi badan) yang kemudian dibandingkan dengan pengukuran supervisor (tenaga kesehatan terlatih). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitik. Hasil penelitian menunjukkan hanya 36% kader mencapai tingkat presisi yang baik (pengukuran konsisten), dan tidak ada kader (0%) yang mencapai tingkat akurasi yang dapat diterima dibandingkan dengan supervisor. Uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara karakteristik kader (umur, pendidikan, masa kerja, pelatihan) maupun tingkat pengetahuan dengan keterampilan pengukuran presisi (p>0,05).
Copyrights © 2026