Balita (2–5 tahun) merupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan gizi seimbang, termasuk buah dan sayur. Konsumsi buah dan sayur di Indonesia masih rendah meskipun ketersediaannya cukup, yang dapat mempengaruhi status gizi balita, walaupun menurut data SSGI tahun 2022 prevalensi stunting provinsi Riau berada di urutan ke-6 terendah sebesar 17,0 % akan tetapi di Ibu Kota Provinsi tersebut masih banyak ditemukan balita dengan kejadian stunting. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan konsumsi buah dan sayur dengan berat badan balita usia 2–5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Limapuluh Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional pada 88 balita yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Konsumsi buah dan sayur diukur menggunakan kuesioner frekuensi, sedangkan berat badan diukur dan dibandingkan dengan standar WHO (Z-score BB/U). Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas konsumsi sayur 1x/hari pada 42% balita dan mayoritas konsumsi buah 1x/hari pada 55,7% balita. Sebagian besar balita 72,2% memiliki berat badan normal, 17,0% underweight, 4,5% severely underweight, dan 5,8% overweight. Terdapat hubungan signifikan antara konsumsi sayur dengan berat badan (p=0,000 r=0,589) dan konsumsi buah dengan berat badan (p=0,000 r=0,512). Konsumsi buah dan sayur berhubungan dengan berat badan balita. Peningkatan asupan keduanya penting untuk mendukung status gizi optimal.
Copyrights © 2026