Persediaan bahan baku memiliki peranan penting dalam menjaga kelancaran proses produksi pada UMKM Tempe Barokah Samarinda. Permasalahan yang dihadapi UMKM adalah sistem pengendalian persediaan yang masih dilakukan secara sederhana, sehingga menyebabkan frekuensi pemesanan menjadi terlalu sering dan meningkatnya biaya pemesanan. Selain itu, keterbatasan kapasitas gudang penyimpanan juga menjadi batasan kendala. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah pemesanan optimal berdasarkan kapasitas gudang, frekuensi pemesanan, safety stock, reorder point, serta membandingkan total biaya persediaan sebelum dan sesudah penerapan metode Economic Order Quantity (EOQ) model Lagrange Multiplier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji variabilitas adalah sebesar 0,000808 < 0,25 yang menunjukkan bahwa data bersifat statis. Hasil uji autokorelasi menunjukkan bawah pola data bersifat stasioner (horizontal). Metode peramalan yang terbaik adalah metode moving average dengan interval 9 bulan dengan nilai MAD 0,96, MSE 1,60, dan MAPE 0,73%. Hasil peramalan permintaan untuk 12 bulan ke depan adalah sebesar 1582 karung kedelai dengan rata rata permintaan sebesar 132 karung. Hasil perhitungan dengan metode EOQ model Lagrange Multiplier menunjukkan bahwa jumlah pemesanan optimal sebesar 45 karung dengan frekunsi pemesanan sebanyak 36 kali, safety stock sebanyak 1 karung, dan reorder point sebanyak 6 karung. Total biaya persediaan pada metode EOQ Lagrange Multiplier adalah sebesar Rp2.225.185, jauh lebih rendah dibandingkan biaya persediaan pada metode perusahaan adalah sebesar Rp13.318.438. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode EOQ Lagrange Multiplier menghasilkan penghematan sebanyak Rp12.093.253 atau sebesar 84,46%. Dengan demikian, metode EOQ Lagrange Multiplier mampu meningkatkan efisiensi pada biaya persediaan.
Copyrights © 2026