Infrastructure development in Gading Serpong, specifically the X School project area, faces expansive subgrade issues proven by low bearing capacity and high plasticity (indicated by a Liquid Limit/LL of 83.51% and a Plasticity Index/PI of 43.95%). This study utilizes non-calcined chicken eggshell powder (ESP) waste as an eco-friendly stabilization alternative to address this issue, compared to conventional chemicals (cement/lime) that are relatively expensive and produce high carbon emissions. This experimental laboratory research tested disturbed soil samples mixed with ESP at 0%, 5%, 10%, and 15% variations of the soil's dry weight. Testing began with the natural soil's physical properties, followed by Atterberg limits and standard compaction tests. The results showed a decrease in PI to 36.92% alongside the addition of 15% ESP. Mechanically, standard compaction indicated an increase in Maximum Dry Density (MDD) from 1.25 g/cm3 to 1.31 g/cm³ and a decrease in Optimum Moisture Content (OMC) from 40.5% to 35.5%. This research proves that adding ESP mechanically acts as a void filler (micro-filler) and chemically reduces clay plasticity, making it viable as a subgrade stabilizer. Abstrak Pembangunan infrastruktur di kawasan Gading Serpong, khususnya area proyek Sekolah X, dihadapkan pada permasalahan tanah dasar ekspansif yang terbukti memiliki daya dukung rendah dan plastisitas tinggi (ditunjukkan dengan nilai Batas Cair/LL = 83,51% dan Indeks Plastisitas/PI = 43,95%). Penelitian ini memanfaatkan limbah serbuk cangkang telur ayam non-kalsinasi (SCT) sebagai bahan stabilisasi alternatif yang ramah lingkungan untuk mengatasi masalah ini dibanding menggunakan bahan kimia konvensional (semen/kapur) yang relatif mahal dan menghasilkan emisi karbon tinggi. Penelitian eksperimental ini menguji sampel tanah terganggu yang dicampur SCT pada variasi 0%, 5%, 10%, dan 15% terhadap berat kering tanah. Pengujian diawali dengan sifat fisik tanah asli, dilanjutkan dengan batas Atterberg dan uji pemadatan standar. Hasil pengujian menunjukkan penurunan PI menjadi 36,92% seiring dengan penambahan SCT 15%. Secara mekanis, pemadatan standar menunjukkan peningkatan kepadatan kering maksimum (MDD) dari 1,25 g/cm3 menjadi 1,31 g/cm³ dan penurunan kadar air optimum (OMC) dari 40,5% menjadi 35,5%. Penelitian ini membuktikan bahwa penambahan material SCT secara mekanis berfungsi sebagai pengisi rongga pori dan secara kimiawi mereduksi plastisitas lempung, sehingga layak digunakan sebagai stabilisator tanah dasar.
Copyrights © 2026