Perdebatan tentang sumber dan otoritas pengetahuan dalam akidah Islam melibatkan tiga tradisi epistemologis utama, yaitu filsafat, teologi, dan tasawuf, yang menawarkan perangkat berbeda untuk mencapai keyakinan. Meskipun kajian mengenai epistemologi burhani, nash, dan syuhud irfani telah berkembang, penelitian terdahulu cenderung membahas ketiganya secara parsial dan belum menguji hujjiyyah masing-masing dalam pembuktian akidah secara komparatif. Kekosongan tersebut menimbulkan persoalan mendasar mengenai apakah ketiga alat pengetahuan tersebut memiliki kekuatan epistemik yang setara atau terdapat perbedaan hierarkis dalam otoritasnya. Dengan menggunakan metode kualitatif terhadap karya primer pendukung utama tigamazhab tersebut serta literatur kontemporer, penelitian ini menemukan: pertama, akal burhani memiliki otoritas inheren (hujjiyyah dzatiyyah) karena mampu mengungkap realitas tanpa dalil lain; kedua, nas agama menghadapi tiga problem utama, otentisitas sumber (shudur), dan indikasi makna (dilalah) dan arah (jihah) sehingga bersifat spekulatif (zhanni); ketiga, penyaksian hati (mukasyafah) tidak memiliki timbangan objektif untuk membedakan penyingkapan Ilahi dari bisikan setan. Akal burhani merupakan fondasi epistemik bagi seluruh alat pengetahuan lainnya, sementara naql dan syuhud bersifat subsidier. Kebaruan adalah sintesis epistemologis yang menawarkan hierarki otoritas pengetahuan dengan menempatkan akal burhani sebagai dalil primer dalam metodologi baru studi akidah kontemporer.
Copyrights © 2026