Zulkifli, Muhammad Yusuf
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tadris Ramadhan membangun Karakter Anak Bersama Al-Quran (Kolaborasi Pengabdian Masyarakat STAI Nusantara dan Badan Kemakmuran Mesjid Tibang Kota Banda Aceh) Zulkifli, Muhammad Yusuf; Muttaqin, Reza; Jamaluddin; Rahman, Mulia; Muslem; Suzanni; Sapparipin; Jamal, Zaini Indra; Barat, Nadi; Nurhasanah
ZONA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 2 (2024): ZONA: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/zona.v1i2.68

Abstract

Karakter merupakan, sifat, sikap atau kebiasaan yang mendarah daging. tidak dapat dibentuk dari kebiasaan. Pada saat yang sama, kebiasaan itu sendiri hanyalah buah dari pemikiran manusia. Dari semula, manusia mengembangkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, namun dalam perkembangan selanjutnya, manusia dibentuk menurut kebiasaannya sendiri. Artikel ini berfokus pada pembentukan karakter pada anak melalui metode pembacaan  Al-Qur'an melalui tadris ramadhan. Metode ini dipilih karena cerita-cerita Al-Quran mengandung hikmah yang mudah diserap oleh anak-anak sehingga dapat mempengaruhi pola pikir yang berujung pada perubahan kebiasaan kemudian mengubah pola pikir dan kebiasaan sehingga anak menjadi generasi Al-Qur'an. Proses pengembangan karakter menurut Al-Qur'an meliputi identifikasi karakter, pemahaman, penerapan, pembiasaan, penanaman, penyerapan. Melalui pendidikan karakter ini diharapkan akan lahir manusia yang mempunyai kebebasan menentukan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan penuh rasa tanggung jawab. Yakni manusia yang mandiri, dinamis, kreatif, inovatif dan bertanggung jawab terhadap Tuhan, diri sendiri, umat, masyarakat, bangsa dan negara.
Hierarki Otoritas Epistemik dalam Akidah Islam: Komparasi Akal Burhani, Nash, dan Syuhud Syukur, Muhammad; Zulkifli, Muhammad Yusuf
Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 5 No. 3 (2026): September
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/jitp.2026.5.3.512-530

Abstract

Perdebatan tentang sumber dan otoritas pengetahuan dalam akidah Islam me­li­batkan tiga tradisi epistemologis utama, yaitu filsafat, teologi, dan tasawuf, yang mena­warkan perangkat berbeda untuk mencapai keyakinan. Meskipun kajian menge­nai epistemologi burhani, nash, dan syuhud irfani telah berkembang, penelitian terdahulu cenderung membahas ketiganya secara parsial dan belum menguji hujjiyyah masing-masing dalam pembuktian akidah secara komparatif. Kekosongan tersebut menim­bul­kan persoalan mendasar mengenai apakah ketiga alat pengetahuan tersebut memiliki kekuatan epistemik yang setara atau terdapat perbedaan hierarkis dalam otoritasnya. Dengan menggunakan metode kualitatif terhadap karya primer pendukung utama tigamazhab tersebut serta literatur kontemporer, penelitian ini menemukan: pertama, akal burhani memiliki otoritas inheren (hujjiyyah dzatiyyah) karena mampu mengung­kap realitas tanpa dalil lain; kedua, nas agama menghadapi tiga problem utama, otentisitas sumber (shudur), dan indikasi makna (dilalah) dan arah (jihah) sehingga bersifat spekulatif (zhanni); ketiga, penyaksian hati (mukasyafah) tidak memiliki timbangan objektif untuk membedakan penyingkapan Ilahi dari bisikan setan. Akal burhani merupakan fondasi epistemik bagi seluruh alat pengetahuan lainnya, semen­tara naql dan syuhud bersifat subsidier. Kebaruan adalah sintesis epistemologis yang menawarkan hierarki otoritas pengetahuan dengan menempatkan akal burhani sebagai dalil primer dalam metodologi baru studi akidah kontemporer.