Artikel ini mengkaji problem epistemologis dalam kontekstualisasi adabi-ijtima‘i pada Tafsir Al-Azhar karya Hamka, terutama bagaimana strategi interpretatif yang sama dapat menghasilkan kekuatan sekaligus kerentanan epistemik. Tafsir Al-Azhar merepresentasikan corak adabi-ijtima‘i melalui pengaitan makna ayat dengan realitas sosial, penggunaan bahasa figuratif, peribahasa, dan kontekstualisasi historis. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan Tafsir Al-Azhar sebagai sumber data primer, yang dianalisis melalui close reading menggunakan enam indikator epistemik, yaitu validitas, justifikasi, otoritas, disiplin tekstual, positionality, dan refleksivitas. Temuan pada Tafsir Al-Azhar kemudian dibandingkan dengan Tafsir Al-Mishbah menggunakan indikator yang identik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan epistemik Hamka berupa aksesibilitas, kontekstualisasi, dan orientasi reformis secara konsisten berkelindan dengan kerentanan berupa selektivitas budaya, perluasan analogis, dan positionality sosial-politik. Dengan demikian, kekuatan dan kerentanan epistemik tersebut bukan dua karakter yang berdiri sendiri, melainkan konsekuensi dari mekanisme interpretatif yang sama. Temuan ini menunjukkan bahwa kontekstualisasi adabi-ijtima‘i tidak hanya memperkuat relevansi tafsir terhadap realitas sosial, tetapi juga membentuk kondisi epistemik yang memungkinkan munculnya keterbatasan dalam seleksi budaya, perluasan analogis, dan pembacaan yang dipengaruhi positionality penafsir.
Copyrights © 2026