Al-Qur'an menggunakan berbagai uslub kebahasaan untuk menyampaikan pesan-pesan ilahiah secara efektif, salah satunya melalui istifhām. Dalam kajian balagah, istifhām tidak selalu berfungsi sebagai pertanyaan yang bertujuan memperoleh jawaban, tetapi juga memiliki fungsi retoris sesuai dengan konteks ayat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kaidah istifhām pada QS. al-Mā’ūn [107]: 1 serta mengungkap makna dan fungsi retoris lafaz ara'aita berdasarkan perspektif Tafsir Mafātīḥ al-Ghayb karya Fakhr al-Dīn al-Rāzī dan Ṣafwah at-Tafāsīr karya Muhammad 'Alī as-Ṣābūnī. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lafaz ara'aita pada QS. al-Mā’ūn [107]: 1 tidak termasuk istifhām haqīqī, melainkan istifhām majāzī yang mengikuti kaidah keempat dalam isifham, yaitu perubahan makna menjadi akhbirnī "beritahukan kepadaku" ketika hamzah istifhām masuk pada kata ra'ayta. Menurut al-Rāzī, bentuk tersebut mengandung makna ta'ajjub yang mengekspresikan keheranan terhadap perilaku pendusta agama, sedangkan as-Ṣābūnī memaknainya sebagai gabungan ta'ajjub dan tasywīq yang bertujuan menarik perhatian pembaca terhadap pesan pada ayat-ayat berikutnya. Dengan demikian, istifhām dalam QS. al-Mā’ūn [107]: 1 berfungsi sebagai strategi retoris untuk menegaskan kecaman, membangun perhatian, dan memperkuat pesan moral mengenai keimanan dan tanggung jawab sosial, sehingga memperlihatkan pentingnya analisis kebahasaan dalam memahami makna Al-Qur'an.
Copyrights © 2026