Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis terbanyak dalam program rujuk balik (PRB) yang membutuhkan terapi jangka panjang serta keberlanjutan layanan di fasilitas kesehatan primer. Informasi tentang pola penggunaan obat di apotek jejaring penting sebagai dasar perencanaan pengadaan dan kebijakan farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola konsumsi dan kombinasi terapi antihipertensi pada pasien PRB di wilayah Pulau Bangka berdasarkan data transaksi tahun 2024. Penelitian ini dilakukan secara kuantitatif deskriptif dengan pendekatan data mining menggunakan algoritma Apriori untuk mengidentifikasi asosiasi antarobat. Data diambil dari transaksi resep PRB selama 1 tahun di beberapa apotek dalam jejaring mitra BPJS Kesehatan. Hasil menunjukkan bahwa kelompok obat Angiotensin II Receptor Blocker (ARB), Calcium Channel Blocker (CCB) dihidropiridin, dan beta blocker selektif merupakan golongan yang paling banyak digunakan. Amlodipine 10 mg, Candesartan 8 mg dan 16 mg, serta Bisoprolol menjadi item obat yang paling sering diresepkan. Pola kombinasi dua obat yang paling menonjol adalah Candesartan dan Amlodipine, sementara kombinasi tiga obat yang dominan mencakup Candesartan, Amlodipine, Bisoprolol, Spironolactone, dan Furosemide. Nilai lift yang tinggi mengindikasikan kekuatan asosiasi yang relevan secara klinis. Temuan ini mencerminkan pola terapi yang rasional dan konsisten dengan pedoman hipertensi, serta dapat digunakan untuk menyusun strategi pengadaan obat dan optimalisasi kesinambungan terapi bagi pasien PRB.
Copyrights © 2026