Berdasarkan laporan International Diabetes Federation (IDF 2021), Indonesia menempati peringkat ke-5 dalam prevalensi diabetes di dunia. Untuk mengatasi hal tersebut, asuransi kesehatan nasional Indonesia (BPJS-JKN) menyelenggarakan program untuk manajemen penyakit kronis bernama Prolanis, yang termasuk penyakit diabetes melitus tipe 2. Program ini menawarkan konsultasi rutin untuk pasien, skrining, serta kunjungan rumah. Tujuan studi ini adalah mendeskripsikan efektivitas program Prolanis melalui profil kadar gula darah (GDP) pada pasien diabetes tipe 2 di puskesmas-puskesmas di Jakarta. Analisis observasional dengan pendekatan cross-sectional komparatif dilakukan pada 274 pasien Prolanis dan 242 pasien non-Prolanis. Data didapatkan dari rekam medis dan presensi kehadiran Prolanis. Mann-Whitney digunakan untuk menilai perbedaan 1) profil GDP antara Prolanis dan non-Prolanis, 2) profil GDP antarkelompok puskesmas, dan 3) jumlah kehadiran untuk kontrol pasien Prolanis dan non-Prolanis. Chi-square digunakan untuk menganalisis hubungan antara kontrol rutin dan profil GDP pada kedua kelompok. Meskipun kedua kelompok tidak mencapai target GDP, hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi perbedaan yang signifikan antara kelompok Prolanis dan kelompok non-Prolanis. Puskesmas yang mengadopsi semua kegiatan Prolanis memiliki GDP yang lebih rendah dibandingkan puskesmas yang mengadopsi secara parsial. Tidak ada hubungan antara kontrol rutin dan profil GDP. Implementasi Prolanis diperlukan, tetapi sejauh ini belum memadai. Pemerintah harus menjadikan potensi Prolanis sebagai program pengontrol penyakit yang lebih serius, dengan lebih berfokus pada kualitas implementasi secara menyeluruh.
Copyrights © 2026