Penerapan Building Information Modeling (BIM) pada proyek perumahan skala menengah ke bawah di Jabodetabek masih menghadapi hambatan operasional akibat durasi fast-track (2–4 bulan) dan margin keuntungan yang terbatas. Penelitian kuantitatif-deskriptif ini bertujuan menganalisis tingkat kesiapan, memeringkatkan hambatan utama, serta merumuskan strategi adopsi BIM yang adaptif dan ramah biaya. Evaluasi dilakukan menggunakan integrasi kerangka STOR (SDM, Teknologi, Organisasi, Regulasi), pemeringkatan Relative Importance Index (RII), serta sintesis matriks IFE, EFE, IE, dan TOWS berbasis data kuesioner dari N = 42 praktisi konstruksi. Hasil penelitian menunjukkan adopsi BIM berada pada fase transisi awal, di mana 57,15% instansi belum menjadikan BIM sebagai SOP baku dan penerapannya masih didominasi BIM 3D (50,00%). Meskipun persepsi manfaat internal tergolong sangat positif (RII = 0,812), adopsi terhambat oleh empat kendala utama: ketidaksiapan rantai pasok/mandor lokal (RII = 0,771), kelangkaan SDM ahli (RII = 0,758), tinggi biaya investasi awal (RII = 0,742), dan resistensi budaya kerja (RII = 0,672). Penerapan BIM dari awal (start from scratch) dinilai tidak layak untuk proyek singkat, namun sangat layak melalui pendekatan Light BIM (BIM Level 2) menggunakan standardized template model (Tipe 36 & 45). Hasil analisis kuantitatif (〖TWS〗_IFE = 3,165 ; 〖TWS〗_EFE = 3,558) mendudukkan posisi organisasi pada Kuadran I Matriks IE (Strategi Agresif), yang diwujudkan melalui skema insentif PBG, pelatihan bersubsidi, dan workflow OpenBIM.
Copyrights © 2026