Penelitian ini membahas kritik sosial yang disampaikan melalui film horor Indonesia Malam 3 Yasinan (2026) terhadap fenomena kepalsuan moral masyarakat kelas atas. Film ini mengisahkan keluarga konglomerat Djoyodiredjo pada era 1980-an yang berusaha mempertahankan citra keluarga sempurna, sementara di balik kemewahan dan keharmonisan yang ditampilkan terdapat rahasia kelam, konflik warisan, perselingkuhan, keserakahan, serta penindasan emosional. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi kepalsuan moral, bentuk kritik sosial, dan strategi penyampaian kritik melalui genre horor psikologis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kritis. Data utama berupa film Malam 3 Yasinan, sedangkan data sekunder diperoleh dari ulasan film, wawancara, dan literatur yang relevan. Analisis dilakukan melalui identifikasi adegan dan dialog, kategorisasi bentuk kepalsuan moral, analisis strategi kritik sosial, serta interpretasi makna dalam konteks masyarakat Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan empat bentuk utama kepalsuan moral, yaitu pencitraan keluarga sempurna yang menyembunyikan disfungsi internal, penyembunyian keserakahan dan konflik warisan di balik ritual spiritual, penggunaan agama sebagai topeng kemunafikan, serta penindasan emosional di bawah citra keluarga harmonis. Kritik sosial diperkuat melalui penggunaan horor sebagai konsekuensi moral dari dosa dan kebohongan, simbolisme rumah dan warisan, latar era 1980-an, serta karakterisasi tokoh. Dalam perspektif komunikasi penyiaran Islam, film ini juga menyampaikan pesan mengenai bahaya nifaq dan riya', serta pentingnya kejujuran, ketulusan, dan konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Penelitian ini menunjukkan bahwa film horor dapat berfungsi sebagai medium kritik sosial sekaligus penyampaian pesan moral dan dakwah.
Copyrights © 2026