Hadih Maja Aceh merupakan warisan sastra lisan yang memuat berbagai petuah, nilai moral, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Di tengah meningkatnya berbagai persoalan lingkungan, nilai-nilai ekologis yang terkandung dalam Hadih Maja menjadi penting untuk dikaji sebagai sumber etika lingkungan yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk petuah menjaga alam serta mengungkap etika lingkungan yang terepresentasi dalam Hadih Maja Aceh melalui perspektif ekokritik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa teks-teks Hadih Maja yang memuat petuah tentang hubungan manusia dengan alam, yang diperoleh dari berbagai buku, manuskrip, dan dokumentasi Hadih Maja Aceh. Data dikumpulkan melalui teknik studi dokumentasi dan dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis) dengan memanfaatkan konsep-konsep ekokritik sebagai kerangka interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hadih Maja Aceh merepresentasikan etika lingkungan melalui empat aspek utama, yaitu (1) tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan alam, (2) pemanfaatan sumber daya alam secara arif dan tidak eksploitatif, (3) penghormatan terhadap alam sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga keberlanjutannya, dan (4) penguatan nilai-nilai kearifan lokal sebagai pedoman perilaku ekologis masyarakat. Petuah-petuah tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Aceh telah memiliki kesadaran ekologis yang kuat jauh sebelum berkembangnya wacana lingkungan modern. Dengan demikian, Hadih Maja Aceh tidak hanya berfungsi sebagai media pendidikan moral dan budaya, tetapi juga sebagai sumber etika lingkungan yang berkontribusi terhadap penguatan literasi ekologis dan pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal.
Copyrights © 2026