AbstrakTransisi regulasi di negara berkembang sering menghadapi kegagalan implementasi di tingkat lokal akibat disparitas infrastruktur dan kekakuan teknologi. Studi ini mengevaluasi efektivitas sistem Online Single Submission (OSS) di Kabupaten Sinjai menggunakan kerangka lima indikator John P. Campbell. Analisis mixed-methods menunjukkan bahwa implementasi OSS sangat efektif dalam menyederhanakan prosedur, mengurangi biaya transaksi, dan meningkatkan kepuasan masyarakat (????????????=97,95) untuk perizinan berbasis risiko, khususnya bagi Usaha Mikro dan Kecil (UMK) risiko rendah[cite: 9]. Temuan krusial menunjukkan kesuksesan bukan semata-mata dari teknologi terpusat, melainkan dimediasi oleh inovasi lokal "Gerai Panrita" yang mendesentralisasikan pendampingan daring ke tingkat desa[cite: 9]. Adaptasi lokal ini efektif menjembatani kesenjangan geografis dan digital bagi pelaku usaha di wilayah pelosok[cite: 9]. Studi ini berkontribusi pada teori e-government dengan mengilustrasikan bahwa resiliensi organisasi lokal dan inovasi grass-roots adalah determinan kritis keberhasilan reformasi digital nasional di negara berkembang. Gerai Panrita berfungsi sebagai model yang dapat diskalakan untuk penyampaian layanan publik digital yang inklusif.
Copyrights © 2026