Perjanjian Sunda-Portugis tahun 1522 merupakan salah satu titik balik krusial dalam historiografi maritim Nusantara abad ke-16. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika geopolitik yang melatarbelakangi aliansi antara Kerajaan Sunda dan Portugis, serta mengidentifikasi bagaimana kegagalan implementasi perjanjian tersebut mempercepat keruntuhan Kerajaan Sunda (Pajajaran). Dengan menggunakan metode sejarah kritis yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, artikel ini membedah dokumen primer seperti laporan Tomé Pires (Suma Oriental) dan catatan João de Barros. Landasan teoretis yang digunakan adalah Teori Deharmonisasi Geopolitik dan Defensive Alliance Failure. Kebaruan penelitian ini terletak pada reposisi Perjanjian 1522 bukan sekadar sebagai instrumen perdagangan ekonomi, melainkan sebagai bentuk keputusasaan diplomatik (diplomatic despair) Sunda dalam menghadapi ekspansi Islamosentris Demak-Cirebon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan armada Portugis dalam membangun benteng di Sunda Kelapa memberikan kekosongan ruang strategis yang dimanfaatkan oleh Fatahillah pada tahun 1527. Kegagalan aliansi ini tidak hanya menghilangkan akses laut utama Sunda, tetapi juga memicu efek domino isolasi ekonomi-politik yang berujung pada runtuhnya ibu kota Dayeuh Pakuan oleh pasukan Banten pada tahun 1579.
Copyrights © 2026