Peningkatan jumlah lanjut usia diikuti kebutuhan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular di tingkat komunitas. Namun, keterbatasan kapasitas kader dalam melakukan skrining metabolik, menginterpretasikan hasil, dan memberikan edukasi berbasis risiko menjadi. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader Posyandu Harapan I dalam melaksanakan skrining metabolik terintegrasi pada lansia melalui penerapan Posyandu Presisi. Kegiatan dilaksanakan dengan melibatkan 10 kader dan 25 lansia. Evaluasi kapasitas kader menggunakan desain one-group pretest–posttest melalui pelatihan teori, demonstrasi, praktik, simulasi, dan pendampingan. Pengetahuan kader diukur menggunakan 20 soal pilihan ganda, sedangkan keterampilan dinilai melalui observasi pelaksanaan skrining, interpretasi hasil, dan edukasi berbasis risiko. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 58,4 ± 8,6 pada pretest menjadi 87,6 ± 5,9 pada posttest, dengan peningkatan sebesar 29,2 poin. Proporsi kader yang mencapai skor ≥80 meningkat dari 20,0% menjadi 90,0%. Observasi keterampilan menunjukkan peningkatan pada sebagian besar aspek pelaksanaan skrining, terutama penggunaan alat pemeriksaan metabolik, interpretasi hasil, dan edukasi berbasis risiko. Pada tahap implementasi, 25 lansia menjalani pemeriksaan tekanan darah, glukosa darah, kolesterol total, dan asam urat serta memperoleh edukasi kesehatan; sebanyak 9 lansia (36,0%) memperoleh rekomendasi rujukan ke Puskesmas. Penerapan Posyandu Presisi menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader secara deskriptif serta memungkinkan pelaksanaan skrining metabolik terintegrasi pada lansia di lokasi program. Temuan ini menunjukkan potensi Posyandu Presisi dalam memperkuat kapasitas kader dan mendukung deteksi dini faktor risiko metabolik di tingkat komunitas, tetapi efektivitas kausal dan keberlanjutan program masih memerlukan evaluasi dengan kelompok pembanding, lokasi yang lebih luas, serta pemantauan jangka panjang.
Copyrights © 2026