Kembung (bloat) merupakan gangguan metabolisme akut pada saluran pencernaan sapi perah yang dapat menurunkan produktivitas dan menyebabkan kematian. Penelitian ini bertujuan mengetahui insidensi kembung pada sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) serta mengidentifikasi pengetahuan peternak, kondisi kandang, dan upaya pengendaliannya di KUB Tirtasari Kresna Gemilang, Pujon, Malang. Penelitian menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif melalui survei, observasi, dan wawancara terstruktur terhadap 30 peternak yang dipilih secara purposive sampling dari populasi 700 ekor sapi PFH. Hasil penelitian menunjukkan insidensi kembung sebesar 4,28% atau 30 kasus dan tergolong rendah. Sebanyak 76,7% peternak mampu mengenali gejala klinis awal serta mengetahui pemicu kembung, terutama perubahan pakan secara mendadak dan perubahan cuaca ekstrem. Kondisi kandang sebagian besar didukung ventilasi semi-close house yang baik dan sanitasi rutin, meskipun kebersihan lantai kandang dan ternak masih bervariasi. Pencegahan dilakukan melalui pembersihan kandang, penyediaan air minum bersih, dan pemantauan kondisi ternak, sedangkan pengobatan dilakukan secara mandiri maupun dengan bantuan tenaga kesehatan hewan. Seluruh kasus ditangani segera dengan tingkat kesembuhan 100% dan mortalitas 0%. Berdasarkan hasil tersebut, pengendalian kembung di lokasi penelitian didukung oleh kemampuan deteksi dini peternak, kondisi manajemen kandang, dan ketepatan penanganan.Kata kunci: Sapi PFH, Insidensi; kembung; pengendalian, manajajemen ANALYSIS OF BLOAT INCIDENCE AND ITS CONTROL IN FRIESIAN HOLSTEIN CROSSBRED CATTLE AT JOINT BUSINESS GROUP (KUB) TIRTASARI KRESNA GEMILANG, NGABAB, PUJONAbstractBloat is an acute metabolic disorder of the gastrointestinal tract in dairy cattle that can reduce productivity and cause mortality. This study aimed to determine the incidence of bloat in Peranakan Friesian Holstein (PFH) cattle and identify farmers' knowledge, housing conditions, and control practices at KUB Tirtasari Kresna Gemilang, Pujon, Malang. A case study method with quantitative and qualitative descriptive approaches was conducted through surveys, observations, and structured interviews with 30 farmers selected by purposive sampling from a population of 700 PFH cattle. The results showed that the bloat incidence was 4.28%, representing 30 cases, and was categorized as low. A total of 76.7% of farmers were able to identify early clinical signs and recognized the main triggering factors, particularly sudden feed changes and extreme weather fluctuations. Most housing facilities were supported by adequate semi-close house ventilation and routine sanitation, although barn floor and animal cleanliness varied. Prevention included barn cleaning, provision of clean drinking water, and routine monitoring, while treatment was carried out independently or with assistance from animal health personnel. All cases were treated promptly, resulting in a 100% recovery rate and 0% mortality. These findings indicate that bloat control was supported by farmers' early detection ability, housing management, and timely treatment.Keywords: PFH cattle, incidence; bloat; control; management.
Copyrights © 2026