Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam
Vol. 25 No. 1 (2026): Vol.25 No.1 (2026)

Undermining Women’s Liberation On Social Media: Dogmatic Control In Indonesia’s Anti-Domestic Violence Discourse

Mahbub Ghozali (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)



Article Info

Publish Date
15 Mar 2026

Abstract

Kesadaran terhadap narasi anti-kekerasan terhadap perempuan dalam ranah domestik telah mendorong meningkatnya aktivitas di media sosial yang bertujuan membangun wacana toleransi nol terhadap berbagai bentuk kekerasan. Namun, wacana yang dikonstruksi melalui media sosial sering kali dibentuk oleh narasi keagamaan yang dipengaruhi perspektif patriarkal sehingga secara tidak langsung menormalisasi kekerasan simbolik. Penelitian ini mengkaji bias patriarkal dalam unggahan media sosial yang mempromosikan wacana anti-kekerasan terhadap perempuan di ranah domestik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kerangka analisis wacana media yang sistematis, Artikel ini menganalisis 23 unggahan Instagram yang dikumpulkan melalui penelusuran menggunakan tagar #KDRT dan #Islam. Temuan ini menunjukkan adanya afirmasi yang kuat terhadap gagasan keluarga yang harmonis dan bebas dari kekerasan, di mana unggahan yang dianalisis secara eksplisit mengecam kekerasan terhadap istri. Penolakan tersebut umumnya didasarkan pada argumentasi keagamaan, khususnya penafsiran terhadap QS. An-Nisā’ [4]:34. Meskipun demikian, penafsiran tersebut, walaupun secara prinsip menolak kekerasan, masih melegitimasi bentuk-bentuk disiplin fisik tertentu yang dianggap tidak melukai, seperti pukulan yang tidak menimbulkan rasa sakit, tidak meninggalkan bekas, dan tidak mengenai wajah. Penafsiran semacam ini pada akhirnya mereproduksi kekerasan simbolik dan psikologis dengan membingkai hukuman fisik terbatas sebagai sesuatu yang diperbolehkan secara agama. Narasi tersebut mencerminkan kuatnya hegemoni model penafsiran tradisional dan jarang menghadirkan alternatif penafsiran yang menegaskan pelarangan mutlak terhadap segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Meskipun beberapa unggahan mengutip hadis yang melarang atau mengecam pemukulan terhadap istri, struktur argumentasi yang dibangun masih cenderung mempertahankan asumsi-asumsi patriarkal dan memperkuat konstruksi stereotip mengenai feminitas. Kata Kunci : anti-kekerasan dalam rumah tangga, konten kreator Indonesia, Instagram, dogma agama [Awareness of anti-violence narratives against women in the domestic sphere has led to increased social media activity aimed at fostering a discourse of zero tolerance toward various forms of violence. However, the constructed by discourse often reflects religious narratives influenced by patriarchal perspectives, inadvertently normalizing symbolic violence. This study examines patriarchal biases in social media posts promoting anti-violence discourse against women in the domestic sphere. Using qualitative methods and a structured analysis of discourse formation in media, the study analyzes 23 Instagram posts collected through searches using the hashtags #KDRT (domestic violence) and #Islam. The findings reveal a strong community affirmation of harmonious, violence-free household life, with data explicitly rejecting violence against wives. This rejection often draws on religious principles, particularly interpretations of Quran 4:34. However, these interpretive narratives, while condemning violence, sometimes endorse permissible forms of non-painful beatings that avoid scarring or targeting the face, thereby perpetuating symbolic and psychological violence. Such narratives are shaped by the hegemony of traditional interpretive models, often without offering alternative arguments for an absolute prohibition of violence. Although some posts reference hadiths prohibiting beatings, their argumentative structure still permits narratives reinforcing stereotypical femininity. Keyword: anti-domestic violence, Indonesia’s content creator, Instagram, Religious Dogma]

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

MUSAWA

Publisher

Subject

Religion Arts Humanities Education Social Sciences

Description

Musãwa Journal of Gender and Islamic Studies was first published in March 2002 by PSW (Pusat Studi Wanita) Sunan Kalijaga Yogyakarta under contribution with the Royal Danish Embassy Jakarta. In 2008, published twice a year in collaboration with TAF (The Asia Foundation), namely January and July. ...