Di tengah arus modernisasi dan puritanisme agama, tradisi komunal Sedekah Bumi di Desa Pedak, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang tetap eksis sebagai ruang pertahanan kultural dan ekspresi spiritualitas masyarakat agraris. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar konstruksi nilai religiusitas dan manifestasi multikulturalisme di balik simbolisme jajanan tradisional Dumbek dalam tradisi Sedekah Bumi. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi hermeneutik Paul Ricoeur, data dikumpulkan melalui pengamatan terlibat, dokumentasi, serta wawancara mendalam bersama tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat setempat. Analisis data menerapkan teknik Busur Hermeneutika melalui tiga tahapan utama: penjelasan, pemahaman, dan penafsiran akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dumbek bukan sekadar produk kuliner ritual, melainkan sebuah teks spiritual yang sarat makna teologis. Bentuk geometri spiral mengerucut merepresentasikan suluk—perjalanan spiritual vertikal manusia menuju transendensi Ilahi (hablun minallah) dan puncak tauhid. Pembungkus daun lontar melambangkan inayah atau perlindungan Tuhan , sedangkan cita rasa manis legit melambangkan esensi rasa syukur atas berkah kosmis. Secara sosiokultural, ritus pembagian Dumbek secara komunal berfungsi sebagai medium ruang perjumpaan sosial (cultural space) yang meleburkan sekat dikotomi antara kelompok santri dan abangan melalui gotong royong serta tradisi berbagi pangan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa akulturasi pangan tradisional mampu mematangkan teologi lokal yang inklusif dan harmonis, sekaligus menjadi pilar penguat kerukunan sosial serta aset resolusi konflik berbasis kearifan lokal di tingkat pedesaan.
Copyrights © 2026