Penelitian ini mengkaji fenomena false needs atau kebutuhan palsu dalam perilaku belanja online mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya Malang melalui perspektif Herbert Marcuse, khususnya konsep One Dimensional Man dan false needs. Perkembangan platform e-commerce seperti TikTok Shop dan Shopee, yang didukung oleh fitur live shopping, flash sale, dan konten influencer, telah membentuk pola konsumsi baru yang tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan nyata. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu pendorong utama perilaku konsumtif mahasiswa di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap tiga informan mahasiswa aktif pengguna e-commerce. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga informan memperlihatkan pola pembelian impulsif yang dipengaruhi oleh algoritma media sosial, rekomendasi influencer, serta strategi promosi digital. Kondisi ini sejalan dengan konsep Marcuse mengenai masyarakat satu dimensi, di mana individu kehilangan nalar kritis dan mengikuti arus sistem kapitalisme digital tanpa menyadarinya. Kebebasan memilih yang dirasakan mahasiswa dalam berbelanja online sejatinya merupakan kebebasan semu, karena pilihan tersebut telah diarahkan secara sistematis oleh platform digital untuk melanggengkan budaya konsumtif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa literasi digital dan kesadaran kritis, sebagaimana tercermin dalam gagasan The Great Refusal Marcuse, menjadi kebutuhan mendesak bagi mahasiswa untuk membebaskan diri dari jerat kebutuhan palsu yang diproduksi oleh kapitalisme digital.
Copyrights © 2026