Ketidakmerataan capaian layanan pada organisasi publik menunjukkan bahwa kinerja agregat yang tinggi belum selalu mencerminkan efektivitas pada setiap indikator. Penelitian ini menguji pengaruh motivasi dan disiplin kerja terhadap kinerja pegawai serta peran mediasi budaya organisasi pada Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian menggunakan survei kuantitatif eksplanatori dengan teknik sensus terhadap 64 pegawai. Empat konstruk dioperasionalkan melalui 23 indikator berskala Likert 1-5 dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling dengan SmartPLS 4. Model pengukuran memenuhi kriteria validitas konvergen dan reliabilitas konstruk. Hasil model struktural menunjukkan bahwa motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap budaya organisasi (β = 0,532; t = 2,161; p = 0,031). Sebaliknya, motivasi terhadap kinerja (β = 0,409; p = 0,126), disiplin kerja terhadap kinerja (β = 0,318; p = 0,181), disiplin kerja terhadap budaya organisasi (β = 0,391; p = 0,118), dan budaya organisasi terhadap kinerja (β = 0,217; p = 0,238) tidak signifikan. Efek tidak langsung melalui budaya organisasi juga tidak signifikan. Model menjelaskan 84,5% variasi kinerja dan 82,7% variasi budaya organisasi. Temuan menunjukkan bahwa motivasi lebih tampak sebagai penguat budaya kerja daripada pendorong langsung kinerja. Peningkatan kinerja perlu menghubungkan motivasi dan budaya dengan penghargaan, fasilitas kerja, pembagian tugas, serta evaluasi berbasis indikator.
Copyrights © 2026