Adopsi kecerdasan buatan (AI) dan tekanan efisiensi biaya telah mengubah operasional perbankan nasional, namun bukti empiris mengenai efektivitasnya dalam memitigasi risiko kredit sekaligus mendorong profitabilitas masih terbatas, khususnya pada era pascapandemi dan ledakan bank digital di Indonesia. Penelitian ini menguji pengaruh penetrasi kognitif AI dan efisiensi biaya operasional terhadap profitabilitas perbankan, baik secara langsung maupun melalui mitigasi risiko kredit sebagai mediator. Data sekunder panel dari 30 bank umum di Indonesia periode 2021-2025, mencakup bank BUMN, swasta nasional, pembangunan daerah, dan bank digital murni yang dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Penetrasi kognitif AI diukur melalui indeks komposit content analysis laporan tahunan, efisiensi biaya melalui Cost to Income Ratio, mitigasi risiko kredit melalui Non-Performing Loan gross, dan profitabilitas melalui Return on Assets. Hasil menunjukkan penetrasi kognitif AI dan efisiensi biaya operasional berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas secara langsung, dan mitigasi risiko kredit juga berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas, tetapi keduanya tidak berpengaruh signifikan terhadap mitigasi risiko kredit, sehingga peran mediasinya tidak terbukti. Temuan ini mengindikasikan paradoks algoritma: kontribusi teknologi dan efisiensi biaya terhadap kinerja finansial belum diimbangi penguatan proporsional fungsi manajemen risiko kredit. Penelitian ini memberi implikasi teoretis bagi pengembangan Resource-Based View dan Dynamic Capability dalam digitalisasi perbankan, serta implikasi praktis bagi manajemen bank dan regulator dalam merancang kebijakan integrasi teknologi yang selaras dengan penguatan manajemen risiko kredit.
Copyrights © 2026