Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan motorik halus anak usia 4–5 tahun di TK IT Jasmiinah yang ditunjukkan oleh masih rendahnya kemampuan anak dalam menyusun, memasang, dan menghubungkan kepingan LEGO secara tepat, serta kurang optimalnya koordinasi gerakan mata dan tangan. Kondisi tersebut disebabkan oleh pembelajaran yang masih didominasi kegiatan konvensional sehingga stimulasi terhadap perkembangan motorik halus belum maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 4–5 tahun melalui penerapan permainan LEGO. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 20 anak usia 4–5 tahun di TK IT Jasmiinah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan motorik halus anak mengalami peningkatan pada setiap siklus. Pada kondisi awal, anak yang berada pada kategori Belum Berkembang (BB) sebesar 35%, Mulai Berkembang (MB) sebesar 40%, Berkembang Sesuai Harapan (BSH) sebesar 25%, dan Berkembang Sangat Baik (BSB) sebesar 0%. Setelah penerapan permainan LEGO pada Siklus I, persentase kategori BB menurun menjadi 5%, MB menjadi 11%, sedangkan BSH meningkat menjadi 45% dan BSB menjadi 39%. Pada Siklus II, kemampuan motorik halus anak meningkat lebih optimal dengan persentase BB dan MB menjadi 0%, BSH sebesar 5%, dan BSB meningkat menjadi 95%. Dengan demikian, penerapan permainan LEGO terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 4–5 tahun di TK IT Jasmiinah.
Copyrights © 2026