Publish Date
30 Nov -0001
The rapid advancement of digital communication technology has transformed social media into an interactive space that enables the formation of interest-based communities—places where members communicate, exchange information, and build a collective identity. One such example is the Indonesian Blink-182 fanbase, centered around the Instagram account **@blink182.ina**. This study aims to analyze the characteristics of group communication within the community, identify the role of administrators in managing communication and resolving conflicts, and explain the processes by which solidarity among members is formed and maintained in the digital environment. The research employs a qualitative approach using a case study method. Data collection involved virtual observation of communication activities on Instagram, in-depth interviews with administrators and several community members, and documentation of various forms of digital interaction. The findings indicate that group communication within the community is open and participatory, underpinned by shared symbolic meanings that reinforce collective identity, mutual trust, and interpersonal bonds. Administrators play a crucial role as communication facilitators, conflict mediators, and managers of community norms, thereby fostering a conducive communication climate. Furthermore, shared interest in Blink-182’s music, continuous interaction, active participation in various activities, and mutual support among members serve as key factors that strengthen solidarity and ensure the community's sustainability. Thus, effective group communication acts as a vital foundation for fostering harmonious relationships and supporting the enduring existence of digital fan communities. Perkembangan teknologi komunikasi digital yang semakin pesat telah menjadikan media sosial sebagai ruang interaktif yang memungkinkan terbentuknya komunitas berbasis minat, tempat para anggotanya berkomunikasi, bertukar informasi, serta membangun identitas kolektif. Salah satu contoh komunitas tersebut adalah fanbase Blink-182 Indonesia melalui akun Instagram @blink182.ina. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik komunikasi kelompok yang terjadi di dalam komunitas, mengidentifikasi peran administrator dalam mengelola komunikasi dan menyelesaikan konflik, serta menjelaskan proses terbentuk dan terpeliharanya solidaritas antaranggota di lingkungan digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi virtual terhadap aktivitas komunikasi di Instagram, wawancara mendalam dengan administrator dan beberapa anggota komunitas, serta dokumentasi berbagai bentuk interaksi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi kelompok dalam komunitas berlangsung secara terbuka, partisipatif, dan didukung oleh kesamaan makna simbolik yang memperkuat identitas kolektif, rasa saling percaya, serta keterikatan antaranggota. Administrator memiliki peran penting sebagai fasilitator komunikasi, mediator konflik, sekaligus pengelola norma komunitas sehingga tercipta iklim komunikasi yang kondusif. Selain itu, kesamaan minat terhadap musik Blink-182, interaksi yang berkesinambungan, partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan, serta dukungan timbal balik antaranggota menjadi faktor utama yang memperkuat solidaritas dan menjaga keberlangsungan komunitas. Dengan demikian, komunikasi kelompok yang efektif merupakan fondasi penting dalam menciptakan hubungan yang harmonis sekaligus mendukung eksistensi komunitas penggemar digital secara berkelanjutan.
Copyrights © 0000