Arus Jurnal Sosial dan Humaniora
Vol 6 No 2: Agustus (2026)

Tradisi Yalil Sebagai Media Komunikasi Antarbudaya dan Instrumen Advokasi Sosial untuk Integrasi Masyarakat di Desa Sindangheula Serang Banten

Pauzan (Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten)
Najwa Khoerunnisa (Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten)
Rafa Aliyah Shabirah (Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten)
M. Atila Fahreza (Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten)
Mohammad Imam Kamaludin (Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten)



Article Info

Publish Date
24 Aug 2026

Abstract

Tradisi lisan bukan sekadar prosesi ritual, melainkan instrumen dinamis yang merajut kohesi sosial dalam masyarakat majemuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Tradisi Yalil di Desa Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, baik sebagai media komunikasi antarbudaya maupun sebagai instrumen advokasi sosial dalam memperkuat integrasi masyarakat. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Yalil bertindak sebagai media komunikasi antarbudaya berbentuk cultural performance yang mempertemukan tiga lapisan budaya: Islam pesantren, adat Banten, dan lokal-komunal desa. Proses ini berlangsung melalui komunikasi konteks tinggi (high-context communication) yang memediasi transisi status sosial mempelai. Sebagai instrumen advokasi sosial, Tradisi Yalil berperan dalam menegakkan standar moral pernikahan, menerapkan konsep Living Hadis (shalawat yang hidup dalam budaya), serta membangun ruang ritual bersama yang merekatkan solidaritas kultural tanpa paksaan. Lebih lanjut, tradisi ini berkontribusi terhadap integrasi masyarakat melalui tiga mekanisme utama: integrasi ritual (partisipasi kolektif warga), integrasi normatif (reproduksi kepatuhan nilai adat), dan integrasi simbolis (representasi penerimaan sosial lewat pembukaan kain pembatas). Simpulan penelitian menunjukkan bahwa meskipun mengalami transformasi fungsi pasca-1980 dari syarat wajib menjadi pelengkap pernikahan, Tradisi Yalil memiliki kapasitas adaptif yang organik. Tradisi ini terbukti melampaui fungsi seremonialnya dan berhasil menjadi penjaga kohesi sosial sekaligus media transmisi nilai agama dalam kehidupan masyarakat kontemporer.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

ajsh

Publisher

Subject

Religion Humanities Economics, Econometrics & Finance Languange, Linguistic, Communication & Media Law, Crime, Criminology & Criminal Justice Social Sciences

Description

Arus Jurnal Sosial dan Humaniora (AJSH) menerbitkan karya hasil penelitian dan kajian ilmiah pada ruang lingkup ilmu sosial dan ilmu humaniora diantaranya: antropologi, kajian bisnis, kajian komunikasi, tata kelola perusahaan, kriminologi, kajian lintas budaya, demografi, kajian ekonomi pembangunan, ...