SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM)
Vol. 6 No. 4 (2026)

UNDERSTANDING ENGLISH TEACHERS’ KNOWLEDGE OF DEEP LEARNING INSTRUCTION IN INDONESIAN EFL CLASSROOMS

M. Hasbi Al-Baihaqy (Institut Pendidikan Indonesia Garut)
Yustika Nur Fajriah (Institut Pendidikan Indonesia Garut)
Muhammad Taufik Hidayat (Institut Pendidikan Indonesia Garut)



Article Info

Publish Date
14 Aug 2026

Abstract

Indonesia’s adoption of deep learning as the pedagogical orientation of its national curriculum places teachers at the centre of efforts to translate mindful, meaningful, and joyful learning into English language teaching practice. This study explores what English teachers know about deep learning instruction and how their knowledge shapes their reported practice. A qualitative case study was conducted in a single state Islamic senior secondary school, MAN 1 Garut, West Java. Data were collected through semi-structured interviews with two purposively selected English teachers. To strengthen the trustworthiness of the findings and reduce interpretive subjectivity, the data were systematically analysed using reflexive thematic analysis involving coding, theme development and review, and the tracing of interpretations back to the empirical data. The small number of participants was treated as a feature of the case study design, allowing in-depth examination of teachers’ experiences and reasoning within a specific context rather than statistical generalisation. The findings show that teachers’ knowledge of deep learning was unevenly developed. Although the three pillars were recognised terminologically, mindful learning was interpreted differently and did not fully correspond to the metacognitive meaning emphasised in policy discourse. In contrast, teachers demonstrated relatively strong procedural knowledge through their use of contextual, collaborative, and engagement-oriented teaching practices. The main finding is a gap between teachers’ ability to enact practices consistent with deep learning and their ability to articulate the theoretical principles underlying those practices. Participation in professional training had also not fully strengthened teachers’ confidence in identifying their existing practices as deep learning. These findings suggest that deep learning is being assimilated into teachers’ existing pedagogical repertoires rather than substantially reorganising them. Professional development should therefore strengthen principled knowledge by using teachers’ own successful practices as starting points for reflection and connecting those practices to explicit learning principles. ABSTRAK Penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai orientasi pedagogis kurikulum nasional Indonesia menempatkan guru sebagai aktor penting dalam menerjemahkan konsep pembelajaran yang penuh perhatian, bermakna, dan menyenangkan ke dalam praktik pembelajaran bahasa Inggris. Studi ini bertujuan mengeksplorasi pengetahuan guru bahasa Inggris tentang pengajaran pembelajaran mendalam dan bagaimana pengetahuan tersebut membentuk praktik yang mereka laporkan. Penelitian menggunakan studi kasus kualitatif yang dibatasi pada satu sekolah menengah atas negeri Islam, yaitu MAN 1 Garut, Jawa Barat. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan dua guru bahasa Inggris yang dipilih secara purposif. Untuk menjaga keterpercayaan temuan dan mengurangi subjektivitas interpretasi, data dianalisis secara sistematis menggunakan analisis tematik reflektif dengan proses pengodean, peninjauan tema, dan penelusuran keterkaitan antara data empiris dan interpretasi penelitian. Keterbatasan jumlah partisipan diposisikan sebagai karakteristik desain studi kasus yang memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap pengalaman dan penalaran guru dalam konteks tertentu, bukan sebagai dasar generalisasi statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan guru tentang pembelajaran mendalam bersifat tidak merata. Ketiga pilar pembelajaran dikenali secara terminologis, tetapi konsep mindful learning ditafsirkan secara berbeda dan belum sepenuhnya dipahami dalam pengertian metakognitif yang ditekankan dalam kebijakan. Sebaliknya, pengetahuan prosedural guru relatif kuat, terlihat dari kemampuan menerapkan berbagai praktik pembelajaran kontekstual, kolaboratif, dan berorientasi pada keterlibatan siswa. Temuan utama menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan guru dalam menerapkan praktik yang mendukung pembelajaran mendalam dan kemampuan mereka menjelaskan prinsip teoretis yang mendasari praktik tersebut. Bahkan, pengalaman mengikuti pelatihan belum sepenuhnya membangun keyakinan guru dalam mengidentifikasi praktiknya sebagai pembelajaran mendalam. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam cenderung diasimilasi ke dalam repertoar pedagogis yang telah dimiliki guru, sehingga pengembangan profesional perlu diarahkan pada penguatan pengetahuan berprinsip melalui refleksi terhadap praktik nyata guru dan pengaitan praktik tersebut dengan prinsip pembelajaran yang eksplisit.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

secondary

Publisher

Subject

Education

Description

SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) terbit 4 (Empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang ...