Infrastruktur jalan yang dibangun di atas tanah lunak sering mengalami kerusakan berat berupa longsor dan penurunan akibat kapasitas daya dukung yang rendah dan tingkat kompresibilitas yang tinggi. Penelitian ini mengkaji kasus longsor yang memakan badan jalan pada ruas Jalan Serindang–Pelanjau di STA 0+437,40–0+487,00, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemodelan deformasi vertikal dan horizontal tanah dasar menggunakan bantuan perangkat lunak berbasis metode elemen hingga guna menganalisis perilaku keruntuhan akibat pembebanan jalan serta memodelkan stabilitas rencana perbaikannya. Analisis dilakukan menggunakan program Plaxis 2D 2024.2 pada tiga titik tinjauan, yaitu STA 0+450, STA 0+475, dan STA 0+500, dengan memodelkan empat kondisi muka air tanah, yaitu surut, pasang, pasang tiba-tiba surut (rapid drawdown), dan banjir. Hasil pemodelan kondisi eksisting menunjukkan bahwa kondisi paling rawan dan kritis terjadi pada skenario pasang tiba-tiba surut, dengan Faktor Keamanan (FK) menurun tajam hingga mencapai nilai terendah pada rentang 1,182–1,314, disertai deformasi vertikal dan horizontal yang paling ekstrem. Penerapan perbaikan menggunakan perkuatan cerucuk terbukti sangat efektif dalam mengamankan lereng karena mampu meningkatkan nilai FK secara drastis hingga di atas 1,5 pada kondisi kritis serta menahan badan jalan agar tidak amblas. Namun demikian, kekakuan sistem perkuatan cerucuk ini memicu timbulnya efek perasan (lateral squeezing effect) yang mendesak tanah lunak ke arah samping sehingga deformasi pergeseran horizontal justru semakin besar.
Copyrights © 2026