Pengukuran volume overburden penting dalam operasional pertambangan sebagai dasar perhitungan kemajuan pekerjaan, pembayaran kontraktor, dan evaluasi penambangan. PT. Jaga Usaha Sandai Site Sandai menggunakan GPS Geodetik RTK yang memiliki ketelitian tinggi, tetapi memerlukan waktu, manpower, dan risiko keselamatan kerja yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan membandingkan volume overburden menggunakan UAV dan GPS Geodetik RTK serta menganalisis perbedaan dan efisiensi kedua metode. Penelitian dilakukan pada area shaft penambangan, dengan data UAV diolah menggunakan Agisoft Metashape dan Surpac, sedangkan data GPS Geodetik diolah menggunakan Surpac. Ketelitian dianalisis berdasarkan RMSE, CE90, dan LE90 sesuai standar BIG, sedangkan efisiensi ditinjau dari manpower, waktu, dan keselamatan kerja. Hasil penelitian menunjukkan volume overburden UAV sebesar 27.226,963 m³ dan GPS Geodetik sebesar 26.675,592 m³, dengan selisih 551,371 m³ (2,067%). Perbedaan dipengaruhi oleh metode akuisisi, kepadatan titik, pengolahan data, ketelitian elevasi, kondisi medan, dan representasi permukaan. Nilai RMSE horizontal 0,01437 m, RMSE vertikal 0,00848 m, CE90 0,02181 m, dan LE90 0,01399 m memenuhi ambang akurasi peta dasar Kelas 1 skala 1:1.000. UAV lebih unggul dalam kecepatan, manpower, cakupan area, dan keselamatan kerja, sedangkan GPS Geodetik sesuai untuk pengukuran detail dan validasi. Dengan demikian, UAV efektif, efisien, dan akurat untuk pengukuran volume overburden pada area penambangan luas.
Copyrights © 2026