Peningkatan timbulan sampah dan tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar fosil mendorong pengembangan Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai bahan alternatif yang mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus penyediaan energi. Kualitas RDF sangat dipengaruhi oleh proses pengeringan, karena kadar air yang tinggi dapat menurunkan nilai kalor dan efisiensi pembakaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan karakteristik berbagai metode pengeringan RDF, meliputi biodrying, pengeringan termal, dan pengeringan solar. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode studi kepustakaan dengan mengumpulkan dan mengevaluasi berbagai artikel ilmiah nasional maupun internasional yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa biodrying memiliki efisiensi energi yang baik karena proses ini mampu mencapai rentang suhu 40–70°C secara internal melalui pemanfaatan panas dari aktivitas mikroorganisme aerob. Pengeringan termal memberikan laju pengeringan paling cepat yang dapat selesai dalam hitungan menit hingga jam, namun menuntut konsumsi energi termal eksternal serta biaya operasional yang mahal. Pengeringan solar menawarkan biaya operasional yang paling ekonomis dan bebas emisi gas buang, akan tetapi durasi kinerjanya sangat fluktuatif karena bergantung pada intensitas panas matahari dan kondisi cuaca. Oleh karena itu, pemilihan metode pengeringan perlu disesuaikan dengan karakteristik bahan baku, kebutuhan produksi, ketersediaan energi, dan kondisi operasional untuk menghasilkan RDF yang memenuhi standar kualitas sebagai bahan bakar alternatif berdasarkan SNI 9313:2024.
Copyrights © 2026