Tari Zapin merupakan bentuk seni pertunjukan Melayu yang memperlihatkan kuatnya hubung antara masyarakat Melayu dengan tradisi Arab-Islam. Hubungan tersebut terlihat pada cara Gerak tubuh, repetisi, kostum, dan ruang pertunjukan dimaknai sebagai bagian dari sistem spiritual dan sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses akulturasi spiritualitas Sufi dalam tari Zapin Melayu serta menjelaskan bagaimana unsur-unsur mistik dan transendental yang menekankan adab, kesopanan, keteraturan, dan harmoni kolektif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif melalui studi pustaka dan wawancara dengan seniman, budayawan, serta akademisi yang memiliki pengetahuan mengenai tari Melayu dan tari Sufi. Data diolah melalui analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara tari Sufi dan Zapin tidak terletak pada kesamaan bentuk gerak secara langsung, tetapi pada penggunaan tubuh, ritme, repetisi, musik, dan kostum sebagai media pembentukan pengalaman dan makna. Dalam tari Sufi, repetisi gerak berfungsi sebagai teknologi spiritual menuju ekstase, pelepasan ego, dan kedekatan dengan Tuhan. Dalam Zapin, prinsip tersebut mengalami seleksi, lokalisasi, dan reinterpretasi menjadi mekanisme disiplin tubuh, keteraturan sosial, kesopanan, dan identitas Melayu-Islam. Proses ini disebut sebagai epistemic translation, yaitu penerjemahan pengalaman metafisik Sufi ke dalam kode sosial-estetis Melayu. Dengan demikian, tari Zapin merupakan hasil akulturasi yang mentransformasikan zikir tubuh menjadi adab sosial tanpa sepenuhnya menghilangkan pondasi spiritual Islam.
Copyrights © 2026