Perkembangan lingkungan yang semakin dimediasi algoritma telah mengubah kondisi pembentukan pertimbangan moral dan menantang asumsi normatif yang mendasari pendidikan karakter. Meskipun pendekatan pendidikan karakter telah menekankan pembentukan kebajikan dan disposisi moral, masih terdapat keterbatasan dalam menjelaskan cara individu mempertahankan agensi moral ketika proses deliberasi semakin dipengaruhi sistem algoritmik. Artikel ini berargumen bahwa pendidikan karakter kontemporer perlu menggeser orientasinya dari transmisi kebajikan semata menuju pengembangan agensi moral sebagai tujuan utama pendidikan. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan kualitatif dengan analisis normatif-konseptual integratif untuk merekonstruksi dialog filosofis antara konsep phronesis dalam tradisi Aristotelian dan hikmah dalam pemikiran Ibn Miskawayh. Dialog tersebut menjadi dasar pengembangan Kerangka Phronesis-Hikmah (The Phronesis-Hikmah Framework) sebagai teori normatif-relasional mengenai agensi moral dalam pendidikan karakter di era algoritma. Kerangka ini memandang agensi moral sebagai integrasi dinamis antara pertimbangan deliberatif, pembentukan karakter, dan orientasi moral teleologis. Dengan mereposisi etika kebajikan dalam filsafat pendidikan kontemporer, artikel ini menawarkan landasan teoretis untuk memperluas model pendidikan karakter sekaligus menyediakan dasar normatif bagi pengembangan penelitian empiris dan pedagogis mengenai agensi moral dalam masyarakat yang dimediasi secara digital.
Copyrights © 2026